Update Terbaru

6/recent/ticker-posts

Dana APBN Untuk Anak Usia Dini Desa Lajuk Diduga Dikerjakan Dengan Konstruksi Akal-akalan. Pondasi tak dibongkar, Sloof baru hanya nempel di puing


PASURUAN, Liputan5news.com:Sebuah foto yang diambil di Jl. Krajan, Lajuk, Gondang Wetan, Kabupaten Pasuruan pada September 2026, membongkar boroknya sebuah proyek pendidikan anak.

Di dalam lingkaran hijau itu, terlihat dengan telanjang mata: sebuah balok sloof beton yang baru dicor, menggantung di atas dinding bata merah yang sudah rontok, retak, dan keropos. Di bawahnya, bukan tanah padat, melainkan rongga kosong dan sisa puing. Besi kolom di sampingnya berdiri canggung, seolah tak tahu harus mengikat ke mana.

Inilah potret Program Revitalisasi PAUD 2026,pada KB ROUDLOTUL HASAN desa Lajuk kecamatan Gondangwetan yang menerima Bantuan Pemerintah Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dengan Pelaksana: P2SP.

Dana hampir empat ratus juta untuk ruang belajar anak usia dini. Namun yang dibangun, diduga adalah bahaya yang dicat warna-warni.

Konstruksi "Tempel" yang Melawan Ilmu Teknik

Tim pemerhati pembangunan dan pendidikan dari Aliansi masyarakat untuk transparansi anggaran (AMPRA),Hasim ashari yang dimintai pendapat Media ini,menyebut, ada tiga dosa konstruksi dalam satu foto tersebut.

Pertama, Dosa Pondasi. Juknis Revitalisasi Kemendikdasmen dan SNI 2847:2019 mewajibkan, rehab berat harus dimulai dari nol: bongkar pondasi lama yang rusak, gali sampai tanah keras, buat pondasi baru. Yang terjadi di KB Roudlotul Hasan sebaliknya. Pondasi lama yang sudah hancur dibiarkan. Sloof baru dicor di atasnya. Ini seperti membangun rumah di atas pasir. Bangunan pasti akan mengalami penurunan tidak merata, dinding retak kembali, dan dalam skenario terburuk, ambruk saat gempa. Pasuruan adalah daerah rawan gempa.

Kedua, Dosa Dinding.Dinding bata lama yang sudah pecah dan kehilangan plester dibiarkan menjadi inti bangunan. Tidak ada pembongkaran. Dinding baru hanya ditempel di sampingnya tanpa angkur atau stek yang mengikat. Istilah di lapangan: _kulitari_. Luar dicat hijau dan pink cerah agar terlihat baru di foto laporan, dalamnya tetap bobrok dan retak.

Ketiga, Dosa Mutu.Cor sloof terlihat keropos dan tidak padat. Indikasi adukan tidak sesuai takaran, tidak divibrator, dan bekisting bocor. Sebuah bangunan PAUD, tempat anak-anak 4-6 tahun bermain dan belajar, dibangun dengan mutu seperti ini.

Swakelola yang Dikelola?

Program Revitalisasi PAUD adalah program swakelola. Artinya, dana APBN Rp 396,7 juta itu diberikan langsung ke Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) di sekolah, untuk dikerjakan bersama masyarakat, bukan diborongkan ke kontraktor. Tujuannya agar mutu terjaga dan ada pemberdayaan.

Namun model pekerjaan "tempel puing" seperti ini justru menjadi ciri khas pekerjaan borongan murah yang mengejar sisa anggaran. Volume pembongkaran nol, volume galian pondasi nol, volume pasangan bata baru dikurangi, tapi dalam laporan SPJ dicatat 100 persen.

Pertanyaannya: ke mana selisih anggarannya? Mengapa konsultan perencana dan Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan meloloskan foto progres seperti ini?

Hingga berita ini diturunkan, Kepala KB Roudlotul Hasan dan Ketua P2SP belum memberikan klarifikasi. Tim aliansi AMPRA dan LPK BHARATA Pasuruan
mendesak Inspektorat Jenderal Kemendikdasmen dan Kejaksaan Negeri Kabupaten Pasuruan segera melakukan audit investigatif dan uji struktur sebelum bangunan itu digunakan.

"Ini bukan sekadar soal cat mengelupas. Ini soal nyawa anak-anak PAUD. Jika dibiarkan, kita sedang membangun kuburan yang dicat warna-warni dengan uang negara," kata Holilul rohman pegiat pendidikan dari LPK BHARATA. (Ze)