Update Terbaru

6/recent/ticker-posts

Mahasiswa PPG Gelar Pelatihan Prompt Engineering untuk Cegah Ketergantungan AI Instan di Kalangan Remaja


Liputan5news.com -   LUMAJANG – Mengingat maraknya penggunaan kecerdasan buatan generatif sebagai jalan pintas mengerjakan tugas, sekelompok mahasiswa Pendidikan Profesi Guru bidang Informatika menggelar pelatihan literasi digital. Kegiatan ini ditujukan bagi remaja berusia 17 hingga 18 tahun di Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang. 

Ainur Rofik sebagai ketua pelaksana mengatakan, Pelatihan yang berlangsung pada pekan pertama 5 Juni 2026 ini berfokus pada penguasaan teknik rekayasa perintah guna mengembalikan daya kritis siswa dalam memanfaatkan teknologi.

Fenomena ketergantungan pada teknologi pintar semakin mengkhawatirkan di lingkungan pendidikan kejuruan. Banyak pelajar usia remaja yang menggunakan aplikasi tersebut sekadar untuk menyalin jawaban tanpa melalui proses berpikir analitis. 

Menyadari kondisi ini, program pelatihan dirancang khusus agar siswa tidak sekadar menjadi pengguna pasif. Mereka dilatih untuk mengendalikan sistem mesin pintar melalui teknik pemberian instruksi yang spesifik, kontekstual, dan memiliki batasan yang jelas.

Berbeda dengan kelas teori konvensional, pelatihan ini menerapkan metode praktik langsung pembuatan karya visual secara individu. Peserta diajarkan memecah ide abstrak menjadi struktur kalimat teknis yang mudah dipahami oleh mesin atau yang dikenal dengan istilah dekomposisi komputasional. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini mengesampingkan format ujian tulis tradisional. 

Keterampilan peserta langsung dievaluasi melalui observasi mendalam terhadap riwayat teks instruksi yang mereka ketik serta kualitas produk visual yang dihasilkan.
Proses interaksi antara siswa dan mesin menjadi fokus utama pendampingan. Saat hasil visual pertama melenceng dari harapan, peserta dibimbing untuk menemukan kesalahan logika pada kalimat perintah mereka, bukan sekadar menyerah pada hasil mesin.


"Andika Galih Siswa SMK 1 Tekung Mengatakan, Awalnya saya hanya menyuruh mesin membuat gambar pemandangan, tetapi hasilnya sangat tidak relevan. Setelah saya belajar memperbaiki struktur kalimat dan menambahkan parameter visual yang lebih detail, gambarnya menjadi sangat akurat," ujar salah satu siswa peserta pelatihan saat mempresentasikan hasil karyanya.

Melalui intervensi ini, pola pikir remaja mengenai kecerdasan buatan mulai bergeser secara positif. Mesin pintar tidak lagi dianggap sebagai mesin penjawab instan yang menggantikan proses belajar, melainkan sebagai instrumen kognitif yang menuntut kejelasan logika penggunanya. 

Sebagai langkah keberlanjutan program, modul panduan praktis yang disusun oleh tim penyelenggara kini dihibahkan ke perpustakaan sekolah agar dapat menjadi rujukan belajar mandiri bagi angkatan selanjutnya. pungkasnya (vid)