PROBOLINGGO, Minggu 26 April — Semangat literasi menggeliat di Kota Probolinggo. Alun-alun kota yang biasanya ramai oleh aktivitas warga bersantai dan berolahraga, berubah menjadi ruang publik untuk membaca bersama. Kegiatan bertajuk "Lapak Baca" ini digagas oleh dua komunitas lokal, Titik Realitas dan Probolinggo Book Party, sebagai upaya menumbuhkan minat baca sekaligus mengasah potensi anak muda di daerah tersebut.
Acara berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 12.00 dan diikuti dari berbagai kalangan dengan mengusung konsep santai namun bermakna, kegiatan dibuka dengan sesi membaca senyap. Dalam sesi ini, peserta duduk lesehan di area alun-alun sembari membaca buku yang mereka bawa sendiri maupun koleksi yang disediakan.
Setelah sesi membaca rampung, kegiatan berlanjut ke sesi berbagi cerita atau sharing session, di mana peserta saling menceritakan isi buku yang baru saja mereka baca. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan sesi diskusi ringan yang membahas beragam topik seputar literasi dan isu-isu di kalangan anak muda.
Koordinator Probolinggo Book Party, Kak Bayu, mengaku puas dengan jalannya acara. Menurutnya, kolaborasi dengan Titik Realitas berhasil menyatukan visi kedua komunitas dalam mendorong budaya literasi di Probolinggo.
"Acara kali ini berjalan sukses, dengan menyatukan tujuan dan berkolaborasi dengan komunitas Titik Realitas untuk meningkatkan minat baca serta memberikan wadah bagi teman-teman yang ada di daerah Probolinggo untuk menyalurkan bakat dan wawasan literasinya," ujar Kak Bayu.
Founder Titik Realitas, Ahmad Ali, mengungkapkan rasa antusiasnya atas antusiasme peserta yang hadir. Ia menyoroti stigma yang selama ini melekat pada anak muda Probolinggo, yang kerap dianggap apatis dan mudah terbawa arus tren tanpa substansi (FOMO).
Namun, menurut Ahmad Ali, kegiatan Lapak Baca justru membuktikan sebaliknya, ia menilai masih banyak anak muda di berbagai penjuru Probolinggo yang sebenarnya memiliki semangat literasi tinggi, hanya saja belum menemukan wadah yang tepat untuk menyalurkannya.
"Kami sangat antusias karena ternyata di Probolinggo, yang notabenenya pemuda terkenal apatis dan suka mengikuti arus dalam artian FOMO, ternyata masih banyak tersebar di berbagai titik yang belum terjaring dan memiliki wadah," ujarnya.
Ia berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti sebagai acara seremonial belaka, melainkan dapat menjadi agenda rutin, bahkan berkembang menjadi tren baru di kalangan generasi muda Probolinggo.
"Kami ingin acara lapak baca hari ini tidak hanya cukup sekali dua kali, tapi menjadi rutinitas, kalau bisa menjadi tren kaum anak muda di Probolinggo," katanya menambahkan.
Sementara itu, salah satu penggerak Titik Realitas, Ahmad Sofyan, menjelaskan bahwa komunitas yang ia naungi sejatinya memiliki cakupan gerak yang lebih luas dari sekadar kegiatan membaca di ruang publik. Ia menyebut setidaknya ada beberapa dimensi kegiatan yang menjadi fokus Titik Realitas selama ini.
Pertama, Titik Baca, yakni kegiatan lapak baca rutin seperti yang digelar di Alun-alun Kota Probolinggo pada hari itu. Kedua, Titik Diskusi, yang mewadahi forum-forum diskusi dan kerap berkolaborasi dengan organisasi kemahasiswaan serta elemen kepemudaan di daerah. Ketiga, Titik Sharing, yaitu kegiatan berbagi pengetahuan dan pengalaman secara informal yang biasa dilakukan di sela waktu luang, umumnya di warung kopi atau kafe-kafe terdekat. Keempat, Titik Seni, yang menjadi ruang ekspresi bagi anggota komunitas untuk berkarya, mulai dari menulis puisi, syair, hingga karya tulis ilmiah.
"Ada Titik Baca yang kegiatannya seperti hari ini, membuka stand lapak baca yang rutin dilakukan di alun-alun Kota Probolinggo. Ada Titik Diskusi yang sudah sering kami lakukan dan juga kolaborasi dengan organisasi kemahasiswaan dan elemen pemuda di daerah Probolinggo, ada Titik Sharing yang rutin di waktu senggang kami lakukan di meja-meja perkopian di warkop maupun kafe terdekat, dan juga Titik Seni yang menjadi bukti karya dari teman-teman yang berorientasi pada penciptaan puisi, syair, serta karya tulis ilmiah," jelas Ahmad Sofyan.
Kegiatan Lapak Baca ini turut mendapat apresiasi dari Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA). Pihak RELIMA menyampaikan dukungannya terhadap semangat kolaborasi yang dibangun oleh Titik Realitas dan Probolinggo Book Party, sekaligus berharap gerakan literasi seperti ini dapat terus tumbuh secara rutin dan berkelanjutan.
RELIMA juga mendorong agar kegiatan serupa dapat bersinergi lebih luas dengan berbagai komunitas, lembaga, maupun instansi lain di Probolinggo, mengingat pentingnya kolaborasi lintas elemen dalam membangun budaya literasi yang berkelanjutan.
Dengan digelarnya Lapak Baca ini, Titik Realitas dan Probolinggo Book Party berharap semakin banyak anak muda Probolinggo yang terjaring dalam ekosistem literasi, sekaligus menjadikan alun-alun kota sebagai ruang publik yang tak hanya untuk berekreasi, tetapi juga untuk bertumbuh bersama lewat buku.(hs)
