PROBOLINGGO – Liputan5News.com
Kawasan Gunung Bromo kembali menjadi pusat perhatian dengan dimulainya rangkaian Yadnya Kasada 1948 Saka / 2026 Masehi, tradisi sakral masyarakat Suku Tengger yang sarat nilai spiritual dan budaya. Upacara tahunan yang digelar di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini diawali dengan prosesi Mendak Tirta pada Jumat (29/5/2026), sebagai penanda dimulainya rangkaian menuju puncak Kasada pada 1 Juni 2026.
Dukungan DPD LIRA untuk Pelestarian Budaya
Ketua DPD Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kabupaten Probolinggo, Sudarsono SH, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap masyarakat Tengger yang tetap menjaga tradisi di tengah modernisasi.
“Budaya di Indonesia yang masih berjalan meskipun era semakin modern patut kita banggakan. Masyarakat Tengger, khususnya di Kecamatan Sukapura, telah membuktikan komitmennya dalam merawat warisan leluhur,” ujarnya.
Prosesi Sakral dan Makna Spiritual Rangkaian awal Mendak Tirta dilakukan dengan mengambil air suci dari sejumlah sumber mata air keramat, antara lain:
1. Air Terjun Madakaripura
2. Goa Widodaren
3. Sumber Semanik
4. Merumoyo
5. Rondo Kuning
6. Sumber Pitu
Air suci ini kemudian disemayamkan di Pura Luhur Poten sebagai bagian penting dalam ritual puncak.
Selain itu, ritual Atur Suguh juga digelar serentak di 35 titik kawasan lereng Bromo sebagai wujud syukur kepada Sang Hyang Widhi atas limpahan berkah alam.
Kolaborasi Budaya dan Pemerintah
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikdaya Kabupaten Probolinggo, Akhmad Arief Hermawan, menegaskan bahwa Yadnya Kasada bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga identitas budaya yang harus dijaga.
Sebagai bentuk sinergi, digelar resepsi budaya di Pendopo Agung Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, dengan pengukuhan sejumlah tokoh sebagai Warga Kehormatan Sesepuh Tengger. Langkah ini menjadi simbol kuat harmonisasi antara masyarakat adat dan unsur pemerintah dalam menjaga stabilitas serta kelestarian budaya lokal.
Kemeriahan Seni Tradisional Tengger
Perayaan tahun ini juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni khas Tengger, seperti:
1. Musik ketimplung
2. Tari Reog Tengger
3. Jathilan
4. Tari Senduk
5. Tari Angguk
6. Tari Andira
7. Sendratari kolosal Roro Anteng – Joko Seger
Semua pertunjukan ini menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas budaya sekaligus menarik minat wisatawan.
Edukasi untuk Generasi Muda
Dalam upaya menjaga keberlanjutan budaya, Disdikdaya bekerja sama dengan Universitas Negeri Yogyakarta akan menggelar workshop pembelajaran berbasis budaya bagi para pendidik di Kecamatan Sukapura pada 3 Juni 2026.
Langkah ini bertujuan menanamkan rasa bangga dan tanggung jawab generasi muda terhadap warisan leluhur mereka.
Puncak Acara: 1 Juni 2026
Puncak Yadnya Kasada akan berlangsung dini hari di Pura Luhur Poten dan Laut Pasir Bromo. Pada momen sakral ini, masyarakat Tengger akan melemparkan sesaji ke kawah Gunung Bromo sebagai bentuk pengorbanan suci dan ungkapan syukur.
Tradisi unik ini diprediksi kembali menarik ribuan wisatawan domestik maupun mancanegara, sekaligus menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap hidup dan kuat di tengah arus modernisasi.
Yadnya Kasada 2026 bukan hanya ritual, tetapi simbol kuat harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta—warisan budaya yang terus dijaga dengan penuh kebanggaan oleh masyarakat Tengger.(has)
