Liputan5news.com - Sidoarjo. Perayaan Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo (Harjasda) ke-167 terasa lebih hangat ketika Komunitas Guru Penulis Sidoarjo (KGPS) mempersembahkan karya baru mereka: antologi puisi Kukenang Sidoarjo. Peluncuran buku yang digelar di Cafe Limanas, Sabtu (7/2/2026), menghadirkan suasana akrab, seolah setiap kata yang ditulis para penulis kembali menemukan rumahnya.
Buku ini lahir dari 37 penulis—guru, aktivis seni, hingga pelajar—yang merangkai pengalaman dan kenangan mereka tentang Sidoarjo. Setiap puisi menjadi potret kecil tentang kota: lorong-lorong yang menyimpan cerita, denyut ekonomi yang tak pernah benar-benar berhenti, hingga harapan yang diam-diam tumbuh di tengah perubahan.
Dalam suasana penuh kehangatan itu, Sekretaris KGPS, Suhartatik, menyampaikan bahwa peluncuran ini merupakan hasil kerja panjang yang dijalani dengan penuh cinta. Ia hadir mewakili ketua KGPS, Endang Kusmiati, yang sedang menjalani manasik haji.
"Hari ini adalah hari peluncuran buku ‘Kukenang Sidoarjo’ yang sudah kita rencanakan dan kita tata sejak beberapa waktu yang lalu,” ujarnya.
“Kami di sini mewakili ibu Endang Kusmiati, S.Pd selaku Ketua KGPS yang sedang melakukan manasik haji,” lanjutnya.
Ia bercerita bagaimana banyak sudut kota, termasuk jalan kecil seperti Jalan Thamrin, menyimpan makna yang tidak selalu terlihat oleh mata. Tempat-tempat itu, katanya, menjadi pintu kecil bagi cerita besar tentang kehidupan warga.
“Sidoarjo ini kaya akan berbagai macam budaya, seni, ragam dan perilaku yang unik…”
Untuk itu buku Kukenang Sidoarjo ini tidak hanya sekedar coretan biasa tetapi merupakan jejak yang ingin ditorehkan oleh para penulis...”
Dalam peluncuran itu, hadir pula Ketua Umum Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda), Ribut Wijoyo, yang memberikan pesan mendalam tentang perjalanan sastra di Sidoarjo. Ia mengingatkan bahwa setiap puisi bukan hanya rangkaian kata, tetapi dunia yang dipadatkan oleh imajinasi dan kedalaman rasa.
“Setelah buku yang ke 14 perlu saatnya ada peningkatan kualitas karya puisi, meningkatkan level karya puisi…” ucapnya.
Dia menegaskan bahwa meski puisi tampak sederhana, ia menyimpan kompleksitas yang setara dengan karya panjang.
“Puisi-puisi yang merepresentasikan Sidoarjo hendaknya puisi itu tidak hanya seperti berita-berita yang ditulis…”
Ribut juga menyoroti peran guru dalam membentuk selera dan kemampuan sastra para pelajar di Sidoarjo.
“Peran guru sangat vital, apa yang diciptakan oleh guru akan menjadi rujukan dan acuan bagi teman-teman siswa…”
Dia berharap antologi ini menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh, bukan sekadar angka dalam perjalanan panjang KGPS.
Peluncuran Kukenang Sidoarjo menutup hari itu dengan kehangatan: para penulis pulang membawa rasa bangga, sementara pembaca pulang membawa harapan bahwa kata-kata selalu punya cara untuk menyimpan ingatan, meski waktu terus bergerak menjauh.(Yanti)


