Update Terbaru

6/recent/ticker-posts

PROYEK PENGURANGAN RISIKO BENCANA GUNUNG API PAKET S4 DI DESA SUMBERWULUH LUMAJANG DIDUGA KUALITAS RENDAH: KAWAT BRONJONG BANYAK PUTUS, BETON KEROPOS



 
LUMAJANG – Liputan5News – 

Proyek Pengurangan Risiko Bencana Gunung Api (Volcanic Disaster Reduction Sector Loan Project) Paket S4 di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, yang bertujuan menahan aliran lahar letusan Gunung Semeru, menuai kejanggalan serius. Pekerjaan yang belum rampung ini justru ditemukan banyak kerusakan dan ketidaksesuaian spesifikasi, diduga akibat penggunaan material berkualitas rendah.
 
Proyek dengan nomor kontrak PB.02.01-Bbws10.07.4/1177/2025-Volcanic-S4 ini memiliki nilai anggaran sebesar Rp 161.803.682.834,96. Dana bersumber dari Pinjaman Luar Negeri (PHLN) JICA Loan IP-590 Tahun Anggaran 2025–2027, dikerjakan oleh Konsorsium PT Brantas Abipraya (Persero) – PT Artajaya Mahakarya Samudra (KSO), dengan pengawasan dari konsultan Consulting Services for VDRRSL Semeru Project. Kantor pusat PT Brantas Abipraya (Persero) beralamat di Jl. Di Panjaitan Kav. 14, Kelurahan Cipinang Cikampek, Kota Administrasi Jakarta Timur.
 
Tim investigasi gabungan media dan LSM melakukan peninjauan langsung ke lokasi pada Jumat (17/7/2026) dan mencatat sejumlah temuan mencolok:
 
1. Kawat bronjong banyak putus: Meskipun proyek belum selesai, kawat pada keranjang bronjong sudah terputus di berbagai titik. Tim menduga hal ini disebabkan penggunaan kawat berkualitas rendah atau tidak sesuai standar teknis.
2. Tidak ada petugas di lokasi: Tidak ditemukan tim pelaksana maupun konsultan pengawas di lokasi pekerjaan. Saat ditanyakan kepada pekerja yang ada, mereka hanya menjawab bahwa pihak manajemen berada di kantor.
3. Ukuran batu tidak sesuai: Sebagian besar batu yang diisikan ke dalam bronjong berukuran terlalu kecil, sehingga berisiko mudah hanyut atau merusak struktur saat menerima tekanan lahar.
4. Kualitas beton buruk: Struktur pekerjaan beton yang menjadi bagian proyek banyak ditemukan keropos. Hal ini diduga diperparah karena tim tidak menemukan penggunaan alat getar (vibrator) pada proses pengecoran, yang berfungsi memadatkan adukan beton agar kuat dan awet.
 
Tim investigasi menyatakan kesulitan mendapatkan klarifikasi resmi terkait temuan tersebut, karena tidak ada perwakilan dari kontraktor maupun konsultan yang dapat ditemui di lokasi.
 
"Kami memandang temuan ini sangat serius, mengingat nilai anggaran yang sangat besar dan fungsi vital proyek ini sebagai benteng perlindungan warga Desa Sumberwuluh dan sekitarnya dari ancaman aliran lahar panas Gunung Semeru. Jangan sampai proyek selesai namun strukturnya tidak tahan lama dan gagal saat dibutuhkan," tegas Ketua Tim Investigasi gabungan LSM dan Media.
 
Dalam waktu dekat, tepatnya minggu depan, tim akan mengirimkan surat protes resmi dan laporan lengkap temuan kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dinas PUPR Provinsi Jawa Timur, serta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Pihaknya meminta otoritas terkait segera turun tangan melakukan verifikasi dan menjatuhkan sanksi tegas jika terbukti ada pelanggaran prosedur maupun penyimpangan pengadaan material.(tim)