PASURUAN,Liputan5news.com: Aliansi Poros Tengah turun langsung ke Kantor Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Pasuruan, senin 15/6/2026. Mereka mengawal dugaan penyalahgunaan seleksi SPMB 2026 di sejumlah SMA Negeri se-Kabupaten/Kota Pasuruan.
Kedatangan aliansi dipicu laporan warga soal “anak titipan”, perubahan data domisili fiktif, dan jual-beli kursi lewat jalur afirmasi.
“Kami datang bukan bikin gaduh. Kami kawal SPMB biar bersih, jujur, adil. Jangan sampai kursi SMA Negeri dijualbelikan sementara anak warga Pasuruan asli terlempar,” tegas koordinator Aliansi Poros Tengah, Saiful Arif diruang pertemuan yang di wakili kasi SMA pada cabang dinas pendidikan propinsi jawa timur wilayah pasuruan.
3 Tuntutan Aliansi ke Cabang Dinas Jatim Pasuruan:
1. Audit Ulang Data dengan Verifikasi ulang data domisili dan DTKS/KIP peserta SPMB SMA Negeri Pasuruan yang lolos. Copot peserta yang terbukti pakai data fiktif.
2. Buka Transparansi, Publikasikan nama peserta, nilai, jalur, dan jarak rumah ke sekolah secara real time. Jangan nunggu pengumuman akhir.
3.dan Sanksi Tegas – Tindak oknum sekolah/panitia yang mainkan SPMB. Cabut status kelulusan jika terbukti curang.
Aliansi mengaku sudah mengantongi data beberapa nama yang diduga bermasalah dari SMA Negeri favorit di Pasuruan. Bukti berupa tangkapan layar, KK ganda, dan titik koordinat rumah tidak sesuai akan diserahkan ke kejaksaan sebagai laporan.
“Kami kasih waktu itikad baik cabang dinas untuk perbaiki sistem pelaksanaan SPMB tahun ini . Kalau tidak ada langkah konkret, minggu depan kami laporkan ke Inspektorat, Ombudsman, dan kejaksaan,” ancamnya.
dalam audiensi kali ini tidak dihadiri Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jatim Wilayah Pasuruan dengan dalih ada kegiatan PGRI."pak kacab tidak bisa hadir karena ada giat lain,namun kita pastikan bahwa pelaksanaan SPMB tahun ini sesuai dengan aturan yang ada ."aturan tahun ini memang berbeda dengan tahun sebrlumnya di 2025 ,namun kita tetap menyatakan bahwa pelaksanaan sudah sesuai aturan.teeang Sungko ,kasi SMA.
Penjelasan sungko kasi SMA yang didampingi operator SPMB ,Lukman dinilai hanya normatif dan berbelit karena tidak bisa memberikan jawaban riil oleh Aliansi ,sehingga audiensi menemui jalan buntu dan diwarnai ketegangan yang membuat peserta audiensi walk out dari ruangan.
Moudreix Maulana, memaparkan potret buruk pelaksanaan PPDB 2026 di Kota Pasuruan yang memicu keresahan masyarakat.
"kasus riil di lapangan, di mana seorang calon siswa yang bertempat tinggal di wilayah Mancilan hanya berjarak sekitar 500 meter dari SMA Negeri 2 secara sepihak digeser datanya dari jalur domisili reguler ke jalur nilai dengan dalih untyk sebaran pemerataan, Hal ini membuat posisi siswa tersebut terancam tereliminasi.ungkapnya dengan nada kesal sambil meninggalkan ruang pertemuan.(ze)
