Lumajang liputan5News,- Proyek pembangunan kantor desa Kalibendo Kecamatan Pasirian kabupaten Lumajang menjadi sorotan berbagai pihak, Pasalnya tidak terpasang papan nama yang menandakan tranparansi di abaikan.
Diduga sengaja ditutupi sehingga warga tidak bisa mengetahui anggaran dari mana dan berapa besarnya. Hal itu menjadi pertanyaan publik dan berpotensi terjadi penyelewengan dalam tanda kutip korupsi. Jumat (13/3/2026)
Anggapan negatif tersebut bukan tidak beralasan, warga sama sekali tidak mengetahui asal muasal dan besaran anggaran yang terpakai. Seperti keterangan warga yang tidak bersedia disebutkan nama saat dikonfirmasi oleh awak media.
Dirinya mengatakan bahwa simpang siur terkait proyek siluman di kantor desanya sudah menjadi topik utama setiap perbincangan warga."Kami mencoba menanyakan kepada perangkat desa pasti jawabnya tidak tau anggaran dari mana, semua mengatakan tanyakan kepada pak kades hanya beliau yang tahu dan pemegang kendali keuangannya." Ungkapnya.
Rumor yang beredar besaran anggaran sekitar 105 juta, hanya untuk renovasi dapur dan pengecatan baledesa. Bahkan warga merasa heran anggaran sebesar itu hanya renovasi dapur kalau dilihat sekilas menelan anggaran tidak lebih dari 5 juta. Sedangkan pengecatan diduga hanya menghabiskan anggaran sekitar 5 juta, itupun sudah istimewa banget, tegas warga.
Pertanyaan tersebut terus bergulir pada publik, bahkan ada salah satu warga setempat mengatakan "Proyek tersebut hanya sebagai tameng untuk mencari sangu lebaran, dengan bahasa lain korupsi berkedok proyek untuk biaya lebaran." Tutur salah satu warga dengan mimik kesal.
Hal ini dikuatkan dengan keterangan salah satu perangkat desa yang tidak bersedia dipublikasikan namanya saat dikonfirmasi oleh awak media di kantor desa Kalibendo.
Dia mengatakan tidak tahu anggaran dari mana bahkan awak media dipersilahkan untuk tanya langsung kepada kadesnya.
"Kami tidak tahu biaya proyek kantor desa berasal dari mana, silahkan tanya langsung ke pak kades. Karena semua kendali ada pada beliau termasuk pemegang keuangannya." Ungkap salah satu perangkat desa.
Tertutupnya aset komunikasi tersebut, menguatkan dugaan bahwa proyek siluman tersebut adalah akal-akalan untuk melakukan tindak pidana korupsi. Sementara dugaan tersebut terfokus kepada sang kades Kalibendo sengaja ambil alih tugas bendahara sebagai pemegang keuangan untuk kepentingan pribadi dan memperkaya diri sendiri. Sampai berita ini terbit awak media sudah dua kali mencoba konfirmasi kepada kades dibaledesa tapi selalu tidak berada ditempat.
Sehingga memunculkan anggapan bahwa sengaja menghindar (Bungkam) agar tidak terendus modus penyelewengannya. (Team)
