Probolinggo | Liputan5News.com –
Menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berupa makanan kering yang dibagikan kepada siswa SDN Sumberkare 3, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, menuai sorotan. Pasalnya, menu yang diterima siswa dinilai kurang layak dan diperkirakan hanya bernilai sekitar Rp7.000 per porsi.
Pembagian MBG berupa makanan kering tersebut berlangsung pada Rabu, 25 Februari 2026. Berdasarkan pantauan tim wartawan Liputan5News.com di lokasi, setiap siswa menerima menu yang terdiri dari:
1 butir telur asin
1 buah pisang
Kacang tanah dalam plastik klip kecil (sekitar 3 gram)
1 buah jajanan apem coklat
Menu tersebut dibagikan oleh SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang berlokasi di lahan milik H. Dulla, Dusun Krajan RT 10/RW 03, Desa Sumberkare, Kecamatan Wonomerto. SPPG tersebut diketahui melayani sekitar 3.000 siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai TK, SD, SMP, hingga SMA di wilayah setempat.
Salah satu dewan guru SDN Sumberkare 3 yang ditemui di lokasi menilai menu tersebut kurang layak jika dibandingkan dengan tujuan program MBG. Ia juga memperkirakan nilai makanan yang diterima siswa jauh di bawah standar anggaran yang telah ditetapkan.
“Menurut kami kurang layak. Kalau dirupiahkan mungkin sekitar Rp7.000 saja. Kita bisa lihat sendiri, hanya telur asin, pisang, dan jajanan ringan,” ujarnya, seraya meminta identitasnya tidak disebutkan.
Tim Liputan5News.com kemudian mendatangi dapur gizi SPPG yang berada tidak jauh dari sekolah. Di lokasi tersebut, wartawan menemui H. Dulla selaku mitra pengelola SPPG.
Ia menjelaskan bahwa menu MBG disusun secara bergantian atau sistem silang, sehingga jenis makanan yang diberikan tidak selalu sama setiap hari.
“Menu itu dilakukan silang. Artinya hari ini mungkin seperti ini, besok bisa berbeda dan kemungkinan lebih baik,” jelasnya.
Meski demikian, menu MBG tersebut memunculkan pertanyaan dari berbagai pihak terkait kesesuaian antara kualitas makanan dengan anggaran yang tersedia.
Diketahui, anggaran MBG dari pemerintah pusat disebut mencapai sekitar Rp15.000 per siswa per hari, sementara nilai makanan yang diterima diduga jauh di bawah nominal tersebut.
Kritik juga datang dari wali murid yang berharap adanya perbaikan kualitas menu.
“Kalau hanya seperti itu, lebih baik uangnya diberikan kepada kami. Dengan Rp15.000, kami bisa memasakkan anak lauk ayam atau ikan lengkap dengan sayur,” ungkap salah satu wali murid.
Program MBG sendiri bertujuan untuk meningkatkan asupan gizi siswa guna mendukung kesehatan dan proses belajar. Dengan adanya temuan ini, masyarakat berharap pihak terkait segera melakukan evaluasi agar kualitas makanan yang diberikan sesuai dengan anggaran dan tujuan program pemerintah.
