Liputan5news.com - Sidoarjo. Dalam rangka menjalin sinergitas dengan Medis, kantor SAR Kelas A Surabaya menggelar media gathering bersama awak media. Basarnas menegaskan komitmennya menjadikan media sebagai mitra penting dalam setiap operasi pencarian dan pertolongan. Bagi Basarnas, media bukan hanya saluran penyampai informasi, tetapi juga rekan strategis yang membantu menjaga transparansi, membangun kepercayaan publik, serta memastikan setiap upaya penyelamatan dapat diketahui masyarakat secara akurat dan cepat.
Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya, Nanang Sigit P.H., menegaskan bahwa media merupakan mitra strategis yang sangat penting dalam setiap operasi pencarian dan pertolongan. Menurutnya, media tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai rekan kerja yang membantu menjembatani komunikasi Basarnas dengan masyarakat.
Dalam kegiatan Media Gathering di Kantor SAR Kelas A Surabaya, Juanda, Rabu (11/2/2026), Nanang menyampaikan bahwa setiap operasi—baik kecelakaan maupun kebencanaan—selalu berlangsung dalam tekanan waktu dan situasi yang tidak pasti. Karena itu, penanganan media menjadi bagian krusial.
"Kami memandang media bukan hanya sebagai penyampai informasi, apalagi sekadar kemitraan, tetapi media menjadi rekan kerja yang memiliki peran strategis untuk menyampaikan kepada masyarakat apa yang telah dan sedang Basarnas lakukan sebagai representasi kehadiran negara saat masyarakat membutuhkan,” ungkap Nanang.
Lanjut Nanang, pemberitaan yang berimbang dan sesuai prosedur sangat dibutuhkan. Sebab dalam pelaksanaan tugas, sering muncul berbagai persepsi negatif terhadap Basarnas.
"Media memiliki peran yang sangat penting sebagai penetralisir sekaligus klarifikasi. Kami percaya media adalah mitra positif. Melalui media gathering ini kami berharap terbangun hubungan yang erat, saling percaya, dan saling memahami antara Basarnas dan media. Kami terbuka untuk kritik membangun guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat,” urainya.
Di kesempatan yang sama, Wakil Sekretaris PWI Jatim, Tarmudji, menyoroti derasnya arus informasi dari media sosial yang kerap mengedepankan sensasi.
"Dari HPN di Kabupaten Banten kemarin, media sosial itu menyebarkan informasi hanya untuk sensasi, cari viral, dan berorientasi bisnis,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa media arus utama masih menjadi rujukan masyarakat karena kredibilitasnya. Di tengah maraknya disinformasi dan buzzer, peran media profesional menjadi semakin penting.
“Banyak berita tidak benar yang bisa tampak seolah benar karena komentar buzzer yang luar biasa. Mereka bisa membentuk opini sejak 50 komentar pertama,” pungkasnya.(Yanti)

