Probolinggo – Liputan5news.com
Kondisi jalan kabupaten yang berada di bawah kewenangan Dinas PUPR Kabupaten Probolinggo, tepatnya jalan penghubung Desa Branggah ke Desa Sapih, Kecamatan Lumbang, kian hari semakin memprihatinkan. Jalan yang menjadi akses utama warga Desa Sapih tersebut kini rusak parah dan disebut warga bak sirkuit motor cross.
Pantauan di lapangan menunjukkan, jalan tersebut sudah lebih dari empat tahun tidak tersentuh perbaikan. Aspal nyaris habis, menyisakan makadam yang rusak, berlumpur, dan berbatu. Saat hujan turun, kondisi jalan berubah menjadi sangat licin dan berbahaya bagi pengguna jalan.
Pada Senin, 9 Februari 2026, tercatat dua pengendara sepeda motor mengalami kecelakaan di lokasi tersebut dalam satu hari. Salah satunya adalah bidan Desa Sapih yang terjatuh saat berboncengan dengan suaminya ketika melintas dari Desa Sapih menuju arah Kecamatan Lumajang.
Tak berselang lama, seorang pengendara roda dua lainnya, pria paruh baya, juga terjatuh saat hendak pulang akibat jalan rusak, berlumpur, dan berbatu di area turunan. Beruntung, kedua korban tidak mengalami luka serius.
Ironisnya, kondisi jalan tersebut berada di area kanan kiri jurang yang cukup dalam, tanpa adanya pembatas atau pengaman jalan, sehingga sangat membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Tim wartawan Liputan5news.com telah berupaya mengonfirmasi pihak terkait, khususnya Dinas PUPR Kabupaten Probolinggo melalui Hengki Cahyo Saputra, namun hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan. Padahal saat ini telah memasuki bulan Februari 2026, dan seharusnya terdapat langkah konkret sesuai agenda perencanaan yang telah disusun sebelumnya.
Kerusakan infrastruktur jalan Branggah–Sapih ini juga berdampak besar terhadap perekonomian warga, khususnya para petani. Biaya transportasi hasil pertanian meningkat karena banyak sopir dan pemilik armada enggan melintas akibat tingginya risiko kecelakaan dan kerusakan kendaraan.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Probolinggo lebih peka terhadap keluhan masyarakat dan segera mengambil langkah perbaikan. Terlebih, dalam struktur anggaran pemerintah terdapat anggaran tidak terduga yang semestinya dapat dimanfaatkan untuk kondisi darurat seperti ini, bukan justru dihamburkan untuk kegiatan seremonial.(hs)
