Update Terbaru

6/recent/ticker-posts

Atap Kelas Ambruk di SMPN 1 Gedangan, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo Sidak Ke Lokasi


Liputan5news.com - Sidoarjo. Ambruknya atap ruang kelas di SMPN 1 Gedangan memicu perhatian serius dari DPRD Kabupaten Sidoarjo. Insiden yang terjadi Jumat (20/2/2026) itu membuat Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo memberikan respon cepat untuk melakukan sidak ke SMPN 1 Gedangan. Senin (23/2/2026).


Wakil Ketua DPRD Sidoarjo Warih Andono menjadi salah satu yang paling vokal. Politisi Partai Golkar tersebut langsung turun melakukan inspeksi mendadak ke ruang kelas yang ambruk.


"Kami sangat prihatin. Peristiwa ini seharusnya bisa dicegah jika ada pemetaan bangunan yang rawan,” ujar Warih, Senin (23/2/2026).


Dari hasil sidaknya, Warih memastikan kerusakan tidak dipicu bencana alam, melainkan murni karena usia bangunan dan kondisinya yang telah rapuh. Ia menyebut seluruh kayu penyangga atap sudah lapuk akibat dimakan rayap.


“Faktor utamanya rayap. Semua rangka kayu sudah sangat lapuk dan tak mampu menahan beban hingga akhirnya ambruk,” tegasnya.


DPRD mendorong Pemkab Sidoarjo untuk melakukan pengecekan menyeluruh terhadap sekolah-sekolah yang sudah berumur guna mencegah kejadian serupa.


Meski begitu, perbaikan empat ruang kelas yang terdampak tidak bisa dilakukan cepat. Warih mengungkapkan adanya kendala prosedur penggunaan APBD untuk perbaikan mendadak. Jika tidak bisa masuk dalam Perubahan Anggaran Keuangan (PAK), anggaran baru dapat ditetapkan pada 2027.


Dalam sidak, Warih didampingi Kepala SMPN 1 Gedangan, para guru, serta Kabid Sarpras Dikbud Sidoarjo.


Kepala SMPN 1 Gedangan, Aris Setiawan, menjelaskan ambruknya atap didahului jatuhnya plafon. Pihak sekolah langsung mengosongkan kelas dan memindahkan siswa XI B ke laboratorium IPA beberapa minggu yang lalu. 


"Pukul 09.00 atap ambruk. Untungnya proses belajar sedang libur,” jelas Aris.


Hasil rapat dengan DPRD dan Dikbud menyepakati empat ruang kelas di sekitar lokasi ambruk harus dikosongkan karena rayap telah menyebar ke seluruh bangunan.


Untuk menjaga proses belajar tetap berjalan, sekolah menyiapkan dua skema. Pertama, memanfaatkan tiga laboratorium komputer untuk menampung siswa kelas XI. Kedua, menata ulang penggunaan ruang kelas untuk kelas 7, 8, dan 9 agar kegiatan belajar tetap berlangsung tanpa gangguan.(Yanti)