Probolinggo -Liputan 5news.com
Tongas — Kesabaran warga Desa Tanjungrajo akhirnya runtuh. Bertahun-tahun dibiarkan menghadapi jalan rusak parah tanpa kepastian perbaikan, masyarakat kini mengambil alih keadaan. Blokade total dilakukan. Tidak ada lagi kompromi.
Aksi ini bukan sekadar protes—ini adalah bentuk perlawanan terbuka terhadap pembiaran yang dinilai sistematis. Jalan desa yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan warga kini berubah menjadi jalur berbahaya: berlubang, tergenang, dan siap memakan korban kapan saja.
Pengendara berjatuhan. Kendaraan rusak. Aktivitas ekonomi lumpuh. Namun ironisnya, hingga kini tidak ada langkah konkret yang benar-benar menyentuh akar persoalan.
Dengan ranjang, kayu, dan material seadanya, warga menutup akses jalan sepenuhnya. Dampaknya langsung terasa—lalu lintas lumpuh total, antrean kendaraan mengular panjang, dan situasi memanas.
“Ini bukan soal sabar lagi, ini soal nyawa! Kami tidak mau jadi korban berikutnya!” teriak warga dengan penuh emosi.
Sorotan tajam mengarah pada dugaan aktivitas kendaraan berat yang setiap hari melintas tanpa kendali. Armada bertonase besar disebut-sebut menjadi aktor utama di balik kehancuran jalan desa tersebut.
Salah satu warga, Misgianto, dengan tegas membongkar fakta di lapangan.
“Jalan ini bukan kelas jalan untuk dilalui armada berat. Tapi dipaksakan terus! Hasilnya ya hancur seperti ini. Ini bukan kelalaian, ini pembiaran!” tegasnya lantang.
Pernyataan senada disampaikan Haipur, warga lainnya yang turut geram melihat kondisi tersebut.
“Sudah jelas ini bukan peruntukannya untuk kendaraan besar. Tapi tetap dibiarkan lewat setiap hari. Pertanyaannya: siapa yang melindungi mereka?” ujarnya tajam.
Pertanyaan itu kini bergema di tengah masyarakat: apakah ada pembiaran yang disengaja? Ataukah ada kepentingan tertentu yang membuat aturan seolah tak berlaku?
Aparat sempat turun ke lokasi untuk meredam situasi. Namun warga tetap bertahan. Blokade tidak akan dibuka sebelum ada kepastian nyata, bukan sekadar janji kosong yang selama ini terus diulang.
Tuntutan warga tegas dan tidak bisa ditawar:
Perbaikan total, bukan tambal sulam yang hanya menipu publik
Penertiban tegas kendaraan berat tanpa pandang bulu
Kepastian waktu pengerjaan yang jelas dan terukur
Warga bahkan mengultimatum akan memperluas aksi dengan jumlah massa lebih besar jika kembali diabaikan. Situasi berpotensi membesar dan menjadi gelombang protes yang lebih luas.
Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi pihak terkait. Ketika rakyat harus menutup jalan demi keselamatan sendiri, itu adalah bukti nyata kegagalan dalam melindungi hak dasar masyarakat.
“Jangan tunggu korban lebih banyak. Kalau negara diam, rakyat bergerak!” tegas warga.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pemerintah maupun perusahaan yang diduga terkait dengan lalu lintas kendaraan berat tersebut masih bungkam. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada tanggung jawab.
Diamnya mereka justru memperkuat kecurigaan publik: ada apa di balik hancurnya jalan ini?.(tim)
