Probolinggo | Liputan5News.com
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan di Kabupaten Probolinggo. Kali ini, DPD Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kabupaten Probolinggo menyoroti menu MBG yang didistribusikan oleh dapur SPPG Bhalea Inara di Desa Jangur, Kecamatan Sumberasih.
Sorotan tersebut muncul setelah tim wartawan Liputan5News.com melihat langsung pembagian paket MBG kepada siswa TK PKK Tunas Mulya Desa Sumurmati, Kecamatan Sumberasih, pada Senin (9/3/2026).
Saat mobil distribusi MBG tiba di sekolah dan paket makanan dibuka, isi dalam tas kertas coklat tersebut hanya terdiri dari tiga jenis makanan, yakni:
1.Susu kemasan Frisian Flag ukuran 110 ml
2.Jagung rebus satu buah
3.Jeruk satu buah
Menu tersebut diberikan kepada anak-anak usia dini yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak.
Jika dihitung secara nominal, nilai makanan tersebut diperkirakan hanya sekitar Rp5.000 dengan rincian:
1.Susu kemasan sekitar Rp2.500
2 Jagung rebus sekitar Rp1.500
3.Jeruk sekitar Rp1.000
Padahal, program MBG diketahui memiliki anggaran sekitar Rp15.000 per porsi untuk setiap siswa.
Ketua DPD LIRA Kabupaten Probolinggo, Sudarsono SH, menilai kondisi ini sangat memprihatinkan dan perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Menurutnya, program MBG merupakan program nasional yang menjadi bagian dari kebijakan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan gizi anak-anak Indonesia.
“Program ini adalah amanat nasional. Jika menu yang diberikan kepada anak-anak hanya seperti ini, tentu sangat memprihatinkan dan perlu dievaluasi secara serius,” tegas Sudarsono.
Ia juga menyoroti adanya dugaan ketidaksesuaian antara nilai anggaran dengan menu makanan yang diberikan kepada siswa.
Menurutnya, apabila satu porsi MBG bernilai Rp15.000 namun makanan yang diberikan hanya sekitar Rp5.000, maka terdapat selisih yang cukup besar yang perlu dijelaskan secara transparan.
“Kalau satu dapur SPPG bisa menangani sekitar 3.000 sampai 3.500 siswa, maka perlu dipertanyakan bagaimana pengelolaan anggaran tersebut,” ujarnya.
Sudarsono juga mengingatkan agar program MBG tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu karena program ini menyangkut kebutuhan gizi anak-anak.
Sementara itu, saat tim wartawan Liputan5News.com mencoba melakukan konfirmasi langsung ke dapur SPPG Bhalea Inara di Desa Jangur, kepala dapur tidak berada di lokasi. Beberapa karyawan yang ditemui mengaku tidak mengetahui terkait kebijakan menu yang dibagikan kepada siswa tersebut.
DPD LIRA Kabupaten Probolinggo berharap pemerintah dan instansi terkait segera melakukan evaluasi serta pengawasan agar program MBG benar-benar berjalan sesuai tujuan, yakni meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia.(tim)
