Probolinggo – Liputan5News.com
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan melalui dapur SPPG Jorongan menuai sorotan. Pasalnya, menu yang diterima siswa SDN Jorongan 2, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo dinilai sangat memprihatinkan dan tidak sebanding dengan anggaran yang telah ditetapkan pemerintah pusat.
Siswa yang mayoritas berusia 8 hingga 12 tahun tersebut hanya menerima menu berupa:
1. Nasi sekitar 300 gram
2. Tumis kacang panjang dan tauge
3. Nugget berbahan sawi putih
4. Tahu kecap
5. Buah apel lokal
Menu tersebut dinilai jauh dari standar gizi seimbang dan terkesan sangat sederhana.
Padahal, pemerintah pusat telah menganggarkan Rp15.000 per porsi untuk program MBG.
Berdasarkan perkiraan harga pasar, menu yang diterima siswa tersebut diperkirakan hanya bernilai Rp6.000 hingga Rp7.000 per porsi. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar di masyarakat terkait sisa anggaran sekitar Rp8.000 per siswa.
Jika satu dapur SPPG menangani sekitar 3.000 hingga 3.500 siswa, maka potensi selisih anggaran yang dikelola sangatlah besar setiap harinya, bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah per bulan.
Program MBG sendiri merupakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto, yang bahkan sampai memangkas anggaran di beberapa institusi lain demi memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang layak, sesuai amanat UUD 1945 untuk mewujudkan kemakmuran rakyat.
Namun, kondisi di lapangan justru menimbulkan dugaan bahwa anggaran MBG tidak sepenuhnya sampai kepada siswa sebagaimana mestinya. Masyarakat pun mendesak adanya evaluasi, audit, dan transparansi dari pengelola MBG di SPPG Jorongan agar tujuan mulia program ini tidak disalahgunakan.
Hingga berita ini ditayangkan pihak SPPG terkait penyedia MBG belum dapat dikonfirmasi.(tim)
