Update Terbaru

6/recent/ticker-posts

Hubungan Stunting dengan Penyakit Tuberkulosis pada Anak di Desa Klaseman


Probolinggo liputan5news.com
Kelompok Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Desa Klaseman mengadakan kegiatan Sosialisasi kesehatan mengenai Hubungan Stunting dengan Penyakit Tuberkulosis pada Anak di Desa Klaseman. Kegiatan ini di ikuti oleh masyarakat desa klaseman termasuk para kader posyandu dan ibu – ibu balita yang ada di Desa Klaseman.(jumaat 22/8/2025)

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN mengundang narasumber dari perawat desa untuk memaparkan materi mengenai Hubungan Stunting dengan Penyakit Tuberkulosis pada Anak di Desa Klaseman. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, membangun kesadaran orang tua, memberikan pemahaman tentang pencegahan TBC, mendorong peran aktif masyarakat, dan menguatakan sinergi antara pemerintaha  desa, posyandu dan tenaga kesehatan yang ada di Desa Klaseman.

Stunting dan penyakit tuberkulosis (TBC) merupakan dua masalah kesehatan yang saling berkaitan erat, terutama pada anak-anak di pedesaan. Di Desa Klaseman, permasalahan gizi kronis yang menyebabkan stunting masih menjadi perhatian serius. Stunting bukan hanya berhubungan dengan tinggi badan anak yang lebih pendek dari usianya, tetapi juga menandakan adanya masalah dalam tumbuh kembang, termasuk sistem imun yang melemah.

Kondisi ini membuka peluang bagi berbagai penyakit infeksi, salah satunya tuberkulosis. Anak yang mengalami stunting cenderung memiliki daya tahan tubuh lebih rendah sehingga lebih rentan terpapar bakteri Mycobacterium tuberculosis. Sebaliknya, anak yang terinfeksi TBC seringkali mengalami gangguan nafsu makan, penyerapan nutrisi yang buruk, serta kebutuhan energi yang meningkat. 
Hal ini memperparah kondisi gizi dan memperbesar risiko terjadinya stunting.

Kondisi di Desa Klaseman menunjukkan adanya tantangan ganda. Di satu sisi, masyarakat masih perlu ditingkatkan kesadarannya tentang pentingnya asupan gizi seimbang sejak 1000 hari pertama kehidupan anak. Di sisi lain, upaya pencegahan dan penanganan TBC harus terus dilakukan, baik melalui pemeriksaan dini, pengobatan teratur, maupun edukasi tentang lingkungan sehat dan bebas dari penularan TBC.

Melalui sinergi program kesehatan desa, posyandu, dan dukungan masyarakat, diharapkan upaya perbaikan gizi serta pengendalian penyakit menular dapat berjalan beriringan. Dengan demikian, anak-anak Desa Klaseman tidak hanya dapat tumbuh tinggi dan sehat, tetapi juga terbebas dari ancaman penyakit kronis seperti tuberkulosis.(hs)