Update Terbaru

6/recent/ticker-posts

Gula Rafinasi Banjiri Pasar, Danantara Kucurkan Dana 1,5 Triliun Serap Tebu Petani

Surabaya, Liputan5News.com - Lembaga Pengelola Investasi Nasional Danantara Indonesia berkomitmen mengalokasikan dana sebesar Rp1,5 triliun atau setara US$92 juta untuk membeli gula milik petani yang masih menumpuk di gudang pabrik gula. Langkah ini dilakukan untuk membantu petani tebu yang kesulitan menjual hasil produksinya dengan harga yang layak.

Menurut Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), komitmen tersebut disepakati setelah adanya pembicaraan antara pihak asosiasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Dana itu akan disalurkan melalui PT Sinergi Gula Nusantara sebagai pelaksana pembelian gula dari petani.


Sekretaris cabang APTRI wilayah kecamatan penghasil gula Assembagoes, Situbondo, Jawa Timur, Herman Fauzi, mengatakan bahwa kesepakatan dicapai setelah koordinasi intensif pengurus pusat APTRI dengan kementerian terkait.

Minggu lalu, pengurus APTRI pusat berkoordinasi dengan kementerian terkait dan menerima solusi bahwa Danantara akan mencairkan dananya melalui PT Sinergi Gula Nusantara untuk membeli gula petani,†ujarnya, Sabtu.

Fauzi menuturkan, ribuan ton gula yang belum terjual saat ini menumpuk di pabrik gula Assembagoes, Situbondo. Kondisi tersebut diperparah dengan penawaran harga dari pedagang yang berada di bawah harga referensi Rp14.500 per kilogram sehingga tidak diterima pihak pabrik.

Selama empat minggu terakhir, pedagang hanya menawarkan harga Rp14.350, bahkan Rp14.200 per kilogram. Padahal, harga minimumnya harus Rp14.500, kata Fauzi.

Ia menduga anjloknya harga gula petani dipicu oleh membanjirnya gula rafinasi di pasar yang sebenarnya hanya diperuntukkan bagi kebutuhan industri. Gula rafinasi, lanjutnya, memiliki rasa kurang manis dibandingkan gula konsumsi dan harganya lebih murah.

"Gula rafinasi memang tidak semanis gula biasa, dan harganya lebih murah",tambahnya.

Di sisi lain, Manajer Umum Pabrik Gula Assembagoes, Mulyono, mengungkapkan bahwa pihaknya mengalami kesulitan akibat penumpukan gula yang belum terjual. Menurutnya, selama empat minggu terakhir, sekitar 5 ribu ton gula belum terserap pasar.

"Akibatnya, kami tidak mampu membayar petani yang tebunya diolah di pabrik gula Assembagoes," ujarnya.

Dengan adanya intervensi Danantara Indonesia, diharapkan permasalahan penumpukan stok gula ini dapat segera teratasi. Pembelian gula petani oleh PT Sinergi Gula Nusantara diharapkan mampu menstabilkan harga di tingkat petani sekaligus mencegah kerugian lebih besar.

Kondisi pasar gula nasional saat ini memang tengah mengalami tekanan akibat peredaran gula rafinasi di luar peruntukannya. Situasi ini membuat petani tebu kesulitan memperoleh harga jual yang sesuai dengan acuan pemerintah, sehingga memerlukan dukungan dari lembaga investasi dan pihak terkait.(Ze*)